Sleman- Program studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengadakan lomba nembang macapat, tingkat Daerah IstimewaYogyakarta dan Jawa Tengah. Kompetisi ini berlangsung secara luring di gedung Margono Fakultas Ilmu Budaya komplek kampus Universitas Gadjah Mada Jl. Sosio Humaniora, Bulaksumur, Catur tunggal, Sleman pada Sabtu, 4/3. Lomba nembang tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan gugur gunung ke 12.
Kompetisi ini ditujukan bagi siswa Sekolah Menenga Atas (SMA) sederajat. Dalam lomba tersebut terdapat 14 peserta dari Jawa Tenga dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembukaan lomba macapat tingkat DIY- Jateng ini dihadiri oleh Ketua Program Studi Bahasa Sastra dan Budaya Jawa Dr Daru Winarti,M.Hum.
Saat dihubungi tim media aknyogya.ac.id melalui jaringan telekomunikasi Ayumna Mutmainah salah satu panitia lomba yang juga mahasiswa Prodi Bahasa Sastra dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM mengatakan bahwa, kegiatan lomba macapat ini sangat menyenangakan karena di era digital saat ini masih banyak para adik-adik SMA yang masih mau melestarikan budaya jawa.
“Selain itu, kita juga dapat menambah wawasan bagaimana menyanyikan macapat yang benar dari penjelasan-penjelasan para juri dan tentunya semoga tahun depan kegiatan semacam ini pesertanya jauh lebih banyak dari tahun ini”, kata mahasiswa semester VI, ini..
Senada dikatakan Bayu Purnama, M.Sn. Dewan juri pada perlombaan macapat yang juga dosen Seni Karawitan kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta mengungkapkan bahwa, lomba macapat tingkat SMA Jateng- DIY yang diadakan prodi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada merupakan program gugur gunung yang 12.
“Yang sangat menyenangkan dan membanggakan adalah antusiasme peserta yang masih dalam bangku sekolah SMA. Di era digital saat ini dimana banyak medsos yang bayak mengunggah budaya barat dan modern tapi, masih ada anak-anak muda yang masih mau menyukai, meneliti, mengkaji dan mempraktekan tembang macapat, yang merupakan kategori budaya jawa. Dan adalagi yang sangat mengagumkankan yaitu mereka mampu melantumkan tembang pilihan, dimana peserta hanya di berikan notasinya (angka-angka- red) saja. tetapi, disitu masing-masing peseta diperbolehkan membuat syair sendiri dan mereka mampu”, ujar Bayu Purnama Kaprodi Karawita AKN Senbud Yk.
Rochmad-AKN