Bantul, AKN Senbud Yk – Sosoknya berperawakan tinggi besar, berbusana surjan oranye dengan kain jarik duduk bersila, tanganya memegang wayang gunungan atau kayon pertanda acara akan segera di mulai. Alunan gending gamelan menggema, suara gagahnya mulai menuturkan lakon Kembang Tanjung Sugandika.
Itulah Yuwono Tri Prabowo, SH.MM. analis kebijakan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang pada malam itu tampil sebagai dalang wayang kulit yang digelar di pendopo Bale Widya Budaya komplek kampus Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No364, Panggungharjo, Sewon, Bantul, dalam rangka peringatan Dies Natalis yang ke-3. Sabtu malam, 1/7.
Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah tersebut pada awalnya gemar menonton pertunjukan wayang kulit sejak masa usia remaja dan mendengarkan siaran wayang kulit melalui radio pada zamannya. Kemudian bakat mendalangnya tidak secara khusus belajar pada sekolah pedalangan atau sejenisnya. Namun keluwesan dalam memainkan kayon atau wayang dan kemahirannya bisa menirukan suara (impersonate-red) tokoh wayang kulit didapat secara otodidak. “Pada waktu itu saya mulai mendalang pertama kali pada tahun 1994 saat acara merti desa (bersih desa-red) di kampung saya sendiri, semalam suntuk dengan lakon Wahyu Makutha Rama. Saya waktu itu masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta semester kedua kalau tidak salah, dan lulus kuliah tahun 1997,” ujarnya.
Sebagai seniman khususnya dalang wayang kulit, pengidolaan atau menjadikan icon sosok tokoh wayang sudah lumrah, lain dengan Ki Yuwono yang kesehariannya sebagai pejabat pada analis kebijakan tersebut tidak mengidolakan atau menokohkan salah satu tokoh wayang kulit yang ada. “Saya sendiri sebagai dalang wayang kulit tidak mengidolakan satu tokoh wayang kulit, karena masing- masing tokoh punya kelebihan dan kekurangan. Saya menyukai beberapa tokoh wayang di antaranya, Semar, Kresna, Arjuna dan Bima,” imbuhnya, singkat.
Pada peringatan Dies Natalis yang ke-3 kampus AKN Beni dan Budaya Yogyakarta, ki Yuwono berkesempatan manampilkan suguhan cerita wayang kulit dengan judul Kembang Tanjung Sugandika yang sangat menarik hingga penonton terhipnotis dan tidak beranjak dari duduknya. “Penataan panggungnya megah, iringan gamelan dan perangkat pendukung yang bagus. Selain itu para pengrawit (penabung-red) sangat mumpuni, suatu kehormatan dan kepuasan saya berkesenian bisa tampil di sini. Saya sangat bangga dan memberi apresiasi yang tinggi terhadap civitas akademika AKN Seni dan Budaya Yogyakarta yang telah membuktikan bahwa kampus bukan hanya mencetak mahasiswa yang hanya bisa teori, tetapi para mahasiswa sudah terbukti dapat mengimplementasikan yang didapat dari kampus kepada dunia luar, dengan menunjukan kemampuan bidang seni yang sangat luar biasa sehingga dapat dinikmati secara langsung masyarakat luas,” terangnya, pada tim media aknyogya.ac.id.
Secara terpisah direktur AKN Senbud Yk mengatakan bahwa, merupakan suatu kebanggaan bagi kampus ini, dimana dua dalang ditampilkan secara berurutan yang satu dalang mas lurah Cermokartiko seorang abdi dalem kraton Yogyakarta dan yang satunya Yuwono Tri Prabowo seorang pejabat pemerintahan secara sinergis sehingga dalam acara dies ini lebih berwarna. Kolaborasi dalang gaya Surakarta dan Yogyakarta. Artinya kita menyuguhkan seni dan budaya membuat harmonisasi kehidupan bagi penikmat seni khusunya wayang kulit bagi masyarakat.
Rochmad-akn