Probolinggo, aknyogya.ac.id – Festival Jathilan Bromo 2023 yang digelar di Amfiteater Terbuka Bromo, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu, 9/9, mempersembahkan Jathilan Majapahit yang mengambil setting abad ke-13, yaitu pada era keemasan Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.
Pertunjukan Jathilan Majapahit, mengajak para penonoton untuk seakan menyaksikan suasana kemegahan dan kebesaran Kerajaan Majapahit kala itu. Kerajaan Majapahit yang mempunyai nama lain Wilwatikta mengalami masa kejayaannya hingga menguasai hampir seluruh Asia Tenggara. Kerajaan Majapahit pada waktu itu sangat perkasa sebagai pemersatu wilayah Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Filipina, Manila, Papua hingga Sulawesi.
Kisah kejayaan Kerajaan Majapahit yang bersumber dari Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca ini dirumuskan dalam sebuah skenario oleh Sigit Pramono dan diaktualisasikan secara apik dalam sebuah garapan koreografi kolosal yang sangat kreatif dalam kemasan kesenian jathilan oleh Prof. Dr. Kuswarsantyo, M.Hum. Prof. Dr. Kuswarsantyo, M.Hum sendiri lebih dikenal sebagai Dr. Jathilan.
Adalah Bayu Purnama, M.Sn. seorang dosen seni karawitan Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, berkat tangan dinginnya yang telah diuji oleh berbagai pengalaman di lapangan, iringan musik karawitan ciptaannya di pertunjukan Jathilan Majapahit ini, mampu mendukung suasana pertunjukan menjadi lebih menarik.
Dalam kesempatan tersebut Bayu Purnama juga menjelaskan bahwa, Festival Jathilan ini adalah hasil kolaborasi antara Resort Jiwa Jawi Bromo, UNY, AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, UNY, sanggar Haidi dari Banyuwangi, seniman jathilan Temanggung, Jawa Tengah dan beberapa murid SD, SMP, SMA di Wonoroto, Sukapura, Probolinggo, serta sesepuh suku Tengger, Bromo. “Dengan penampilan bersama ini bisa saling berinteraksi, saling berelaborasi menanamkan cipta rasa karsa dalam balutan penabuh Balai Condroradono untuk menyatukan rasa musikal yang dibingkai dengan kesenian pagelaran Jathilan Majapahit,” ujar Bayu Papang (panggilan akrabnya).
Pelibatan para seniman dari berbagai daerah dan semua elemen masyarakat sekitar dalam penggambarannya mencerminkan kejayaan Majapahit pada saat berkuasa yang daerah kekuasaanya meliputi hingga sepertiga dunia pada saat itu. Pengucapan Sumpah Palapa yang di dengungkan Patih Gajahmada pada waktu itu menjadi sebuah akhir cerita pagelaran Jathilan Majapahit. “Bangga rasanya saya bisa tampil dalam sebuah pagelaran besar dengan cerita yang agung, harapan saya semoga kerjasama ini akan terus berlanjut dan kenangan masa kejayaan nusantara ini terus kita kobarkan menjadikan spirit penyatuan jiwa sehingga kita menjadi bangsa yang besar dan terus kita tegakakan nilai- nilai seni dan budaya sebagai pusaka kita sebagai anak bangsa,” terang Kaprodi Seni Karawitan ini, singkat.
Rochmad-AKN