Yogyakarta, aknyogya.ac.id – Dengan Perda No. 2 Tahun 2024 tentang ditetapkannya 13 Maret sebagai Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta, Paniradya Kaistimewaan DIY bersama Sekber Keistimewaan dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) menyelenggarakan acara Dialog Sinau Sejarah Keistimewaan DIY. Rabu 13/3, di Omah Wayang, Jl. Langenastran Kidul, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.
Acara yang mengusung tema Keistimewaan 13 Maret Hadeging Nagari dan Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta menghadirkan beberapa narsumber salah satunya yaitu Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan, DIY. Di sela acara tersebut ditampilkan tarian Sri Manganti oleh Sanggar Yoso Budoyo Langenastran RKB asuhan Sukarni, S.E., alumnus Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta.
Sesaat setelah penampilan anak asuhnya, Sukarni dalam keteranganya menyebutkan bahwa ia merasa senang dan bangga, sanggar tari Yoso Budoyo diberi kesempatan untuk mengisi acara dalam rangka Sinau Sejarah Keistimewaan DIY13 Maret Hadeging Nagari Ngayogyakarta yang sekaligus dijadikan hari jadi DIY, “Saya selaku pelatih sekaligus pemilik sanggar tari Yoso Budoyo merasa bangga diberi kesempatan untuk mengisi acara dalam acara tersebut, pada kegiatan tersebut kami tampilkan dua tarian, sebagai pembuka acara kami tampilkan tari Sri Manganti dan yang kedua tarian Mangastuti sebagai pengisi jeda pada acara dialog,” ujar Alumni Prodi Tari Angkatan VIII.
Secara terpisah Ariyanti Luhur Tri Setyarini, SH., MH. Kabag Pelayanan dan Umum Paniradya Kaistimewaan, DIY. menyebutkan bahwa Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X berpesan agar semua hasil pembelajaran di kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta untuk langsung dimanfaatkan dan dipertunjukan kepada masyarakat. Kebudayaan merupakan bagian penting dari Istimewanya DIY. “Sangat diperlukan sinergitas dari desa budaya atau kampung budaya untuk menghidupkan minat dan gairah warganya turut serta nguru- uri (memelihara-red) kabudayan bersama dengan kampus khususnya kampus-kampus yang lulusannya mempunyai kompetensi mengajar seni seperti AKN Senbud Yk,” terangnya.
Keterlibatan generasi muda untuk mencintai budayanya sendiri perlu diperkuat, ditengah gempuran budaya asing yang massif masuk melalui media sosial. “Semoga melalui sanggar Yoso Budoyo terus tumbuh praktisi- praktisi muda yang mencintai seni budaya, sehingga seni budaya tidak hanya urip (hidup-red) didalam masyarakat tetapi juga bisa nguripi (menghidupi-red) dan menjadi pangurip-urip (penghidupan-red).” pungkasnya.
Rochmad AKN