Yogyakarta,aknyogya.ac.id – Berbicara tentang dunia pariwisata, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan tujuan wisata nasional kedua setelah Pulau Bali. Selain potensi wisata alamnya yang ada, potensi wisata seni, budaya dan religi yang ada di DIY sangat menarik untuk dijadikan sebagai destinasi wisata.
Saat safari dalam rangka ketugasannya PJ Walikota Yogyakarta Singgih Raharjo yang juga Kepala Dinas Pariwisata DIY Mengunjungi Masjid Tawangsari yang merupakan salah satu Masjid Patok Negoro Kagungan Ndalem Kraton Yogyakarta, Jumat, 29/3. Di masjid tersebut ia turut mengikuti sholat Jumat dan bertemu dengan para takmir (pengurus masjid-red).
Masjid Tawangsari merupakan tempat ibadah umat muslim peninggalan Pangeran Haryo Puger putra Sultan HB II, Raja Kraton Yogyakarta. Masjid ini terletak di Jl. Bantul, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Dimana saat ini Pangeran Haryo Puger beserta kerabat kraton lainnya disemayamkan di pemakaman yang terletak di sebelah barat masjid tersebut. Masjid Tawangsari adalah masjid bersejarah yang mempunyai potensi besar sebagai destinasi wisata religi, seni dan budaya di Kota Yogyakarta.
Singgih Raharja dalam kesempatannya mengatakan bahwa pariwisata di Yogyakarta ini sangat banyak ragamnya. Utamanya pengembangan destinasi wisata religi, seni dan budaya seperti Masjid Tawangsari yang merupakan masjid bersejarah dimana masjid ini merupakan kagungan dalem Kraton Yogyakarta.
“Masjid ini sangat menarik dan bersejarah, baik itu dari sisi Mataram Islam maupun yang lainnya. Akan bisa menjadi daya tarik tersendiri, karena dirunut dari sejarah sang pendiri masjid yaitu Radeng Haryo Puger ini adalah putera Sultan HB II. Inilah yang menjadi satu daya Tarik. Daya tarik itu bisa diwujudkan dalam narasi dan storytelling. Sehingga bila kita berbicara Masjid Tawangsari dari sisi arsitekturnya ini terdapat akulturasi dari seni budaya Hindu dan Islam. Kemudian outentisitas dari bangungannya masih kita lihat bersama dari corak kayu, ukirannya dan bentuk kubah masjidnya, inilah yang akan menjadi daya tarik minat wisatawan untuk datang, dalam rangka berwisata religi seni budaya,” jelas Singgih Raharja, PJ Walikota Yogyakarta, saat diwawancarai oleh tim media aknyogya.ac.id selepas beramah tamah dengan takmir Masjid Tawangsari.
Di tempat yang berbeda, Dr. Tri Suryo Widodo, S.Sn., M.Hum., dosen Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, memberikan keterangan kepada tim media aknyogya.ac.id mengenai wacana pengembangan potensi wisata seni budaya dan religi khususnya di Kota Yogyakarta. Bahwa hal tersebut sejatinya menggarisbawahi sekaligus menguatkan potensi Yogyakarta sebagai pusat seni dan kebudayaan secara umum. “Keberadaan makam pangeran Puger putra dari Sultan HB II yang akan dikembangkan menjadi lokasi wisata seni budaya dan religi tentu menjadi salah satu pulihan lokasi yang tepat apabila dikaitkan dengan sisi kesejarahan Yogyakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan nusantara,” ungkap Dr. Tri Suryo Widodo, S.Sn., M.Hum.
Lebih lanjut Dr. Tri Suryo Widodo, S.Sn., M.Hum., menjelaskan bahwa berdasarkan rekam jejak AKN Seni dan Budaya Yogyakarta yang menitikberatkan pada Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan serta sejumlah hasil kesenian yang adiluhung seperti wayang kulit, tari dan karawitan, maka sangat dimungkinkan lokasi tersebut di samping sebagai lokasi wisata seni budaya dan religi dapat dilengkapi dengan sejumlah program-program atau event-event kesenian yang mengkhususkan kesenian adiluhung Yogyakarta bukan yang lainnya, baik dari pementasan, pameran workshop, dan sebagainya.
Direktur AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, Dr. Supadma, M.Hum., kepada aknyogya.ac.id mengungkapkan bahwa sebagai perguruan tinggi vokasi yang mengkhususkan pada bidang seni dan budaya gagrak Yogyakarta, mendukung terhadap kegiatan-kegiatan pelestarian seni dan budaya Yogyakarta. Hal ini telah ditunjukkan dengan memberikan dukungan dan perhatian penuh terhadap kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) mahasiswa di lima kabupaten/kota di DIY dan turut berkontribusi dalam event tahunan PKB (Pesta Kesenian Bali).
“AKN Seni dan Budaya Yogyakarta selain mengisi pementasan tari di Kraton Yogyakarta, juga turut aktif mengisi pementasan Wayang Topeng Panji Jayakusuma setiap tiga minggu sekali yang melibatkan mahasiswa aktif serta alumni AKN Seni dan Budaya Yogyakarta. AKN Seni dan Budaya Yogyakarta melalui mahasiswa dan alumninya sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya di masyarakat seperti Merti Desa, Rasulan dan lain-lain. Tentunya AKN Seni dan Budaya Yogyakarta juga akan turut mendukung perkembangan keberadaan wisata seni, budaya dan religi yang ada di DIY,” pungkas Dr. Supadma, M.Hum.
Rochmad-AKN