Yogyakarta - 50 peserta dari kalangan kaum muda antusias membahas masa depan wayang kulit pada diskusi kemitraan bertajuk "Menjadikan Wayang Kulit Sebagai Ikon Favorit." Acara tersebut berlangsung di Ruang Banggar, Lantai 2 Gedung DPRD DIY, Malioboro Yogyakarta, Kamis (9/4/2026) Pukul 10.00 WIB.
Diskusi pembahasan seni tradisional ini menghadirkan dua narasumber ahli yaitu Sagio, seorang maestro wayang kulit gagrak Yogyakarta dan Ima Novilasari, M.Sn., selaku Kaprodi Kriya AKN Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY).
Sebagai moderator mahasiswa Prodi Kriya Kulit AKNSBY.
Dalam paparannya, Sagio menjelaskan sejarah panjang wayang telah ada sejak zaman Prabu Jayabaya sekitar tahun 861 Saka. Ia menekankan pentingnya memahami identitas visual khas Yogyakarta atau yang dikenal dengan istilah gagrak Yogyakarta. Menurutnya, pembuatan wayang kulit bukan sekadar kerajinan melainkan proses kriya yang membutuhkan ketekunan tinggi, mulai dari teknik tatah hingga sungging.
Melengkapi perspektif teknis tersebut, Ima Novilasari menyampaikan materi berjudul "Strategi Akar ke Pucuk: Mengenal, Mencintai, dan Menginovasi." Ima secara jujur membedah "tembok besar" yang membuat generasi muda sulit menjadikan wayang sebagai favorit. Mulai dari hambatan bahasa Jawa Krama yang dianggap sulit, durasi pementasan yang terlalu lama yaitu 7-8 jam, hingga stigma "wingit" atau mistis.
Sebagai solusi, Ima menawarkan strategi "Akar ke Pucuk" yang meliputi akar (Pendidikan) yang menjadikan wayang sebagai kurikulum wajib atau ekstrakurikuler di tingkat SD hingga SMA untuk membentuk karakter dan identitas budaya.
Sedangkan batang atau jembatan pemahaman yaitu melakukan reformat pementasan menjadi lebih padat (1-2 jam) dengan tema cerita yang relevan bagi mahasiswa serta penggunaan bahan alternatif seperti kardus agar lebih terjangkau.
Selain itu juga pucuk (aktualisasi) yang menjadikan wayang sebagai gaya hidup atau lifestyle melalui produk kreatif seperti streetwear, aset game hingga filter media sosial. "Menjadikan wayang sebagai ikon favorit adalah kerja maraton, bukan lari sprint.
Kenalkan lewat sekolah atau kurikulum," tegas Ima.
Selain itu juga mudahkan lewat bahan alternatif diantaranya kardus atau limbah. Dekatkan pula lewat durasi dan bahasa yang dipahami. Serta profesionalkan lewat pendidikan tinggi AKN Seni dan Budaya Yogyakarta.
"Minimal sebagai warga Yogyakarta, kita tidak asing di rumah sendiri. Kita kuatkan akarnya di pendidikan dasar, kita petik buah kreativitasnya di masa depan," pungkas Ima. (Humas-AKNSenBud)