DENPASAR - Sendratari Satya Paramartha dari AKNSBY dipentaskan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7/2026). Penampilan spektakuker AKNSBY tersebut tak hanya menghibur para penikmat seni tapi juga mendapat respons positif dari sejumlah pihak. Diantaranya yang menyampaikan tanggapan adalah Rinto, Dosen ISI Bali. Rinto menyampaikan kalau perhelatan PKB ini merupakan ajang bergengsi dan AKNSBY telah berpartisipasi bertahun-tahun memanfaatkan peluang itu termasuk kembali berpartisipasi pada tahun ini.
“Tampilannya bagus sekali, kebetulan paket pada Pesta Kesenian Bali ini dua jam dan AKNSBY tampil sangat luar biasa utamanya di karya-karya sendratarinya,” kata Rinto. “Dan saya melihat kebetulan kostumnya bagus-bagus dan baru-baru. Dan ternyata itu adalah kolaborasi antara Prodi Tata Sungging dengan para penari, dan kolaborasinya bagus sekali dengan tampilan baru,” ucapnya. “Bagi penonton, khususnya orang-orang Jawa yang di Bali kangen dengan pertunjukkan seperti ini yang kebetulan berlangsung pada jam 17.00, sore hari yang memungkinkan penonton masih pada jam kerja atau mungkin baru pulang,” tuturnya.
Dan kebetulan ada tiga pementasan yang bersamaan sehingga peluang untuk hadir menonton di Sendratari Satya Paramartha mungkin tidak begitu banyak. Tapi di luar dugaan ternyata respons penonton justru luar biasa. Rinto menyebut, sebagai perguruan tinggi yang berisi para akademisi, pementasan seperti ini menjadi momentum penting.
“Pentas itu berfungsi penting juga untuk saya sendiri karena saya punya cita-cita ingin membuat sebuah sanggar seni," terangnya. Sanggar seni itu bukanlah milik pribadi, karena ia mengakui mendapat tugas untuk menguri-uri budaya Jawa di Bali. "Nah, ketika ada pementasan seperti ini, saya yakin pelestarian budaya bisa terus dikembangkan. Dari Jawa dibawa ke Bali akan saling mempengaruhi, sehingga budaya itu akan tetap hidup dan lestari apalagi di Bali, itu mesti lestari sepanjang masa. Janin saja sudah dididik untuk bisa berkesenian,” tegasnya.
Ia memaparkan, pementasan yang diusung AKNSBY ini turut pula menjadi contoh pelajaran bagus bagi daerah-daerah lain bahwa budaya itu menjadi bagian penting. Karena di situ olah rasanya yang penting. Olah rasa tanpa apapun ketika hanya mengandalkan pikir, saya yakin juga pikir saja yang dikembangkan tidak pakai rasa pasti akan berbeda.
Sedangkan menurut Saptono, yang juga Dosen ISI Bali, selama dirinya melihat penampilan AKNSBY, mulai dari zaman Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., mungkin 4 atau 5 tahun yang lalu itu selalu memukau.
Bagus sekali ya, jadi untuk sebuah lembaga akademi yang hanya 1 tahun,ternyata para penari ini tetap bisa menampilkan suguhan yang luar biasa. “Itu yang bagi saya luar biasa,” tegasnya. “Jadi, kekompakannya, penabuh, pengrawit dan semua tim itu kompak,” sebutnya.
Karena itu ia berharap pada PKB tahun depan AKNSBY bisa terus mengisi dan tampil seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain bisa sebagai jam terbang para mahasiswa, ajang PKB ini bisa menjadi pengalaman pula. Teruslah dijalin hubungan kerjasama itu dengan berbagai pihak termasuk dengan ISI Bali juga. Karena dari Kerjasama itu nanti juga bisa melahirkan kolaborasi yang luar biasa. (Humas-AKNSenBud)