Akademi Komunitas Negeri (AKN) Seni dan Budaya Yogyakarta merupakan perguruan tinggi negeri vokasi yang mendidik mahasiswa agar mandiri dan berkualitas dalam bidang keterampilan. Sebagai institusi yang fokus pada seni, AKN memiliki berbagai koleksi busana tari, seperti busana untuk Tari Golek, Sekar Pudyastuti, Sinto, Trijata, dan masih banyak lagi busana tokoh putri lainnya. Dalam berbusana tari klasik gaya Yogyakarta, khususnya bagi penari putri, penggunaan kain sering kali dilakukan dengan cara seredan.
Apa itu seredan? Seredan adalah cara mengenakan kain di mana sisa kain dibiarkan menjuntai di sebelah kiri penari.
Sebelum mengenakan kain dengan cara seredan, pemahaman mengenai motif kain—khususnya motif parang dan bergurdho—sangatlah diperlukan. Dalam tari gaya Yogyakarta dengan motif parang, arah lerek (garis miring) harus selalu miring ke bawah kiri penari, sementara motif gurdho harus mengarah ke atas.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah panjang seredan dan letak gurdho. Sisa kain seredan harus berada di bawah lutut, dan gambar gurdho bagian belakang harus terletak tepat di tengah (bagian belakang/panggul) penari. Selain itu, panjang kain secara keseluruhan harus sebatas mata kaki penari.
Agar penari merasa nyaman dan terlihat rapi saat menggunakan teknik seredan, ada teknik tersendiri yang perlu diterapkan. Setelah dipastikan arah lerek dan gurdho sudah benar, sisa kain bagian atas ditarik ke atas agar bagian bawahnya sejajar dan tidak kendur.
Untuk mengikat kain agar kuat dan tidak mudah lepas, terdapat trik khusus untuk mengunci ujung kain, yaitu dengan cara melipat atau menali ujungnya bolak-balik, baru kemudian mengenakan stagen.
Dengan demikian, penari akan merasa nyaman dalam bergerak, tidak terganggu oleh kain, serta dipastikan aman dan kain tidak bergeser. (Atien)