Mungkid – Kampus Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta adalah lembaga pendidikan vokasi setingkat D1 dengan memiliki 3 Program Studi. Yakni, Prodi Seni Tari, Prodi Seni Karawitan dan Prodi Seni Kriya Tatah Sungging Watang Kulit yang tidak mendiskriminasi mahasiswa, baik usia maupun kondisi fisik termasuk disabilitas. Selagi calon mahasiswa masih mampu memenuhi kriteria setiap prodi, AKN Seni Budaya Yogyakarta akan tetap menerima. Hal ini disampaikan oleh kaprodi seni kriya tatah wayang kulit, Junende Rahmawati, M.Sn., saat melakukan kunjungan kerja kedinasan ke kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Jl. Soekarno-Hatta, Sawitan II, Sawitan, Mungkid, Kabupaten Magelang, Kamis 10/11.
Turut mendampingi dalam kunjungan ini Kasubag -TU AKN Seni Budaya Yogyakarta, Rais Faisal Ahyar, S.T., M.Eng.. Mereka berdua diterima dengan baik oleh Pamong Budaya Disdikbud Kabupaten Magelang Dedi Panggung Suprabowo, S.Sn., Pamong Budaya-Subkor Cagar Budaya dan Permuseuman Hari Bawarti, S.Sn., serta Staff Seksi Kesenian dan Perfilman Rahmad Subadi dan Anisa Devi Nurul, S.Sn..
Kunjungan ini masih dalam rangka mensosialisasikan program AKN Seni Budaya Yogyakarta yang siap menerima mahasiswa baru dari luar DIY. Kepada Disdikbud Kabupaten Magelang, Rais Faisal Ahyar menambahkan penjelasannya bahwa, AKN Seni Budaya Yogyakarta siap menerima mahasiswa dari luar DIY untuk belajar di AKN Seni Budaya Yogyakarta sesuai tiga prodi yang ada di kampus dengan besaran 7 kategori Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi calon mahasiswa. Beliau berharap agar Disdikbud Kabupaten Magelang bisa mensosialisasikan keberadaan AKN Seni dan Budaya Yogyakarta kepada masyarakat kabupaten Magelang, baik kepada para seniman maupun sanggar-sanggar yang ada di kabupaten Magelang.
Hal ini disambut baik oleh pihak Disdikbud Kabupaten Magelang. “Untuk menindaklanjuti, pihak Disdikbud Kabupaten Magelang berharap AKN membuat surat resmi yang ditujukan kepada sanggar-sanggar”, jelas Hari Bawarti.
Lebih lanjut Dedi Panggung Suprabowo menyampaikan, “Bila dibandingkan keahlian mahasiswa yang menempuh S1 di kampus akademisi semester 2 bisa jadi memiliki kemampuang skill yang sama dengan D1 di AKN karena memiliki keterampilan khusus yang diajarkan, berbeda dengan mahasiswa akademisi yang dibebankan pada skripsi. Ini adalah solusi terbaik untuk masyarakat yang ingin belajar meningkatkan keterampilan”.
“Bisa jadi kami juga mendaftar di AKN sebagai tugas belajar”, tambah Rahmad Subadi dengan penuh harapan.
Kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta dalam menyelenggarakan kurikulum pendidikannya memuat 30% teori dan 70% praktek. Selain itu masuk dalam jajaran pengajarnya adalah maestro di bidangnya. Lulusan kampus AKN Seni Budaya tentunya akan mendapatkan kualifikasi dan sertifikasi yang diakui untuk berkarya di masyarakat.
Rochmad AKN