YOGYAKARTA - Waktu yang singkat namun merupakan waktu yang padat bagi AKN Seni dan Budaya Yogyakarta menjadi sebuah pembuktian heroisme akademik. AKNSBY sebagai satuan kerja baru telah membuktikan dirinya mampu memikul mandat luhur menjadi benteng sekaligus laboratorium yang dinamis, yang menjaga agar denyutnya di Kebudayaan Nusantara tidak berhenti berdetak di tengah badai zaman. Hal tersebut dikatakan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D. saat menyampaikan pidato ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis Ke-6 AKNSBY pada Jumat (3/7/2026) di Pendapa Kampus setempat Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul. Sidang Senat bertema "Harmoni Transformasi Digital dan Budaya Nusantara Dalam Membentuk Generasi Berkarakter Bangsa" ini sebagai rangkaian acara Dies Natalis Ke-6.
"Pada orasi ilmiah pada hari ini, saya sengaja mengajukan sebuah judul yang barangkali terdengar kontradiktif. Membenturkan dua kutub yang sekilas mustahil bersatu, Culture 5.0 dari algoritma cyber menuju karakter pendopo," ucap Setya. Ia memaparkan, kita hari ini hidup pada era dimana Society 5.0 bukan lagi sekedar prediksi sosiologis melainkan realitas keseharian. Kita berada di fase Culture 5.0, sebuah tantangan kebudayaan baru dimana realitas fisik atau physical space dan realitas maya, cyberspace, telah melebur tanpa skat Peradaban kita hari ini dipertemukan oleh sesuatu yang tidak kasat mata yang kita sebut sebagai algoritma cyber. Algoritma adalah deretan kode binar susunan angka 0 dan 1 yang super efisien, dingin, kalkulatif dan matematis. Ia mendikte apa yang kita lihat di layar gawai kita, menentukan apa yang viral dan secara perlahan menyetir bagaimana cara generasi muda untuk berpikir, meraih dan berpikir menentukan apa yang viral dan secara perlahan menyetir bagaimana cara generasi muda untuk berpikir, meraih dan berpikir.
Menentukan apa yang viral dan secara perlahan menyetir bagaimana cara generasi muda untuk berpikir, meraih dan berpikir dunia yang serba instan memuja kecepatan dan tidak jarang mereduksi manusia menjadi
sekedar data statistik atau konsumen digital ada bahaya eksistensi di sana yaitu cultural homogenization, penyeragaman budaya global yang dingin yang berpotensi mencabut manusia dari akar kemanusiaannya.
Tugas kita di institusi seperti AKNSBY ini adalah memasok komoditas paling langka di dunia digital hari ini yaitu ruh, rasa dan karakter luhur manusia.
"Inilah makna sejati Culture 5.0, sejak zaman data algoritma cyber, kita bergerak pulang mematangkan diri menuju keagungan karakter pendopo. Culture 5.0 di AKNSBY bukanlah tentang meruntuhkan pendopo ini lalu menggantikan dengan server komputer, melainkan bagaimana kita membangun pendopo digital di dalam jiwa setiap manusia," terang Setya. "Kita ingin melahirkan para sarjana dan ahli yang mampu menembus rimba raya algoritma cyber dunia. Namun di dalam dada mereka tetap berdegup kencang denyut nadi etika dan kehormatan seorang manusia pendopo." sebutnya. "Atas nama LLDIKTI Wilayah V, saya mengucapkan selamat Dies Natalis ke-6," ucap Setyabudi. (Humas-AKNSenBud)