Bantul – Pada Rapat Evalusi dan Koordinasi seluruh dosen dan pengajar kampus Akademi Komunitas Seni dan Budaya Yogyakarta, Selasa (17/1/23), Direktur AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, Dr. Supadma, M.Hum. menyampaikan dalam sambutannya tentang semangat ke-KITA-an kepada seluruh dosen dan pengajar.
Beliau menjabarkan, K adalah kompetitif. Meskipun kampus Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta bukanlah satu-satunya akademi komunitas negeri yang berdiri di Indonesia, tetapi kita harus menggelorakan semangat kompetitif . Semangat kompetitif ini harus hidup di dalam sanubari individu seluruh civitas akademika AKN Seni dan Budaya Yogyakarta.
I adalah inspiratif. Hendaknya kita bisa memberikan inspirasi. Kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh AKN Seni dan Budaya Yogyakarta seharusnya bisa mengundang perhatian dan minat masyarakat.
T adalah toleran. Toleransi sangat dibutuhkan oleh perguruan tinggi yang bergerak di bidang pendidikan seni dan budaya. Sebagai contoh dalam penerimaan mahasiswa baru, kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta mulai menerima mahasiswa disabilitas.
A adalah adaptif. Yang dimaksud adaptif di sini adalah bagaimana kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta dengan berbagai kegiatannya bisa akrab dan diterima dengan baik di masyarakat.
“Jadi, dalam segala lini kerja saya sudah beberapa kali menyampaikan, kalau terkait dengan internal kampus kita harus bisa menjaga koneksitas. Terkait dengan semua kegiatan di luar kampus kita harus bisa sinergi. Maka ke-KITA-an itu sebagai sebuah keberangkatan yang memberikan spirit kita bersama untuk bisa segera kampus ini berdaya dan mendapatkan pengakuan di masyarakat”, jelas Dr. Supadma, M.Hum.
Sebuah harapan agar Kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta bisa menjadi Rumah Yogya Bersama dimana semua orang dengan berbagai latar belakang dan kepentingannya dapat bersinergi dalam mewujudkan pelestarian budaya, khususnya seni dan budaya Yogyakarta.
Rochmad AKN