Tantangan Dosen Seni Tari AKN Seni Budaya Yogyakarta Mengajar Mahasiswa Difabel Tuli
Tantangan Dosen Seni Tari AKN Seni Budaya Yogyakarta Mengajar Mahasiswa Difabel Tuli
Oleh : Admin • 13 September 2023 • 313 Views

Bantul, aknyogya.ac.id – Mengajar mahasiswa difabel di kampus Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta menjadi tantangan tersendiri bagi para dosen dan instruktur. Khususnya seperti yang dialami oleh Dr. Yosef Adityanto Aji, S.Sn. M.Sn. dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Tari Gaya Puro Pakualaman Tunggal dan Kelompok serta mata kuliah Manajemen Produksi.

Diketahui bahwa pada Tahun Ajaran 2022/2023, Prodi Tari AKN Senbud Yk menerima seorang mahasiswa difabel tuli yang bernama lengkap Wahyu Rahmat Dullah akrab dipanggil Fai. Fai telah melalui tes wawancara dan praktek. Dari situ para penguji melihat potensi dan bakat serta kemauan yang dimiliki Fai cukup tinggi sehingga Fai dinyatakan lolos.

Namun selanjutnya yang menjadi pekerjaan rumah bagi para dosen dan instruktur adalah bagaimana cara menyampaikan materi kepada mahasiswa yang satu ini. Mengingat Fai adalah mahasiswa difabel tuli pertama yang diterima AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, sedangkan seluruh dosen dan instruktur di Prodi Tari belum ada yang pernah mempunyai pengalaman mengajar mahasiswa difabel tuli.

Seperti yang dituturkan oleh Dr. Yosef Adityanto Aji, saat dimintai keterangan melalui sambungan selulernya, bahwa mengajar seorang mahasiswa difabel tuli seperti Fai merupakan pengalaman yang menarik dan unik. Karena metode yang biasa dipergunakan di kelas baik praktek maupun teori tidak bisa sepenuhnya diterapkan terhadap Fai seperti halnya terhadap mahasiswa lainnya. “Saya menggunakan metode dengan cara mengulang-ulang, kemudian mengimitasi gerakan, membuat pengucapan bibir lebih jelas dan merekam. Kemudian dibantu dengan mencatat komunikasi dengan handphone,” jelas dosen yang juga bergelar Mas Riya Lebdamataya. Rabu, 13/9.

Mengingat ini adalah pengalamannya yang pertama kali mengajar mahasiswa difabel, kendala yang paling dirasakan adalah komunikasi. Sehingga ia menggunakan sarana handphone untuk memudahkan.

“Untuk Fai sendiri menurut saya adalah mahasiswa yang mempunyai kemauan dan potensi yang bagus, di luar kebutuhan khususnya Fai. Ketika praktek menari pun Fai dapat menerima dengan baik, meskipun tidak menggunakan cara yang umum. Potensi dia untuk berkembang sangat besar. Karena Fai punya kemampuan untuk berkreatifitas, mengimitasi yang bisa dilakukan dengan baik. Hanya saja butuh metode-metode tertentu agar Fai bisa lebih mengembangkan potensinya,” lanjutnya.

Dari kacamata pengajar, Fai adalah orang yang sangat luar biasa, punya dedikasi yang tinggi terhadap seni, berprestasi, berpotensi besar di bidang seni tari. Terbukti dengan adanya pengalamannya menari di berbagai event, seperti di Museum Sonobudoyo, Kraton dan sebagainya, bahkan di event Pekan Kesenian Bali 2023, dimana banyak yang tidak menyangka bahwsanya Fai adalah mahasiswa berkebutuhan khusus.

Kasubag-TU AKN Seni dan Budaya Yogyakarta Rais Faisal Akhya,M.Eng. sendiri berpendapat bahwa memandang semua manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

“Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, dan semua orang bisa ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya meski dalam keterbatasan. Serta apresiasi yang tinggi untuk seluruh dosen dan instruktur AKN Senbud Yk yang telah secara maksimal mengupayakan pembelajaran terhadap seluruh mahasiswa dengan berbagai metode sehingga pendidikan dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Sebagai pengalaman pertama bagi AKN Seni dan Budaya Yogyakarta menerima mahasiswa difabel, AKN disebutnya terus menyempurnakan diri turut berproses agar bisa memberikan pembelajaran yang baik bagi mahasiswa difabel.

 

Rochmad AKN

 

Bagikan :

Hubungi Kami

Kritik & Saran