Glagah, Kulonprogo – Kalurahan yang terdapat di terletak selatan Kabupaten Kulonprogo ini selain terkenal dengan potensi pariwisata pantainya, juga mempunyai potensi budaya yang tidak kalah dengan daerah lainnya.
Adalah Rodi Martono, seorang pendamping desa budaya mandiri yang ditugaskan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendampingi Kalurahan Glagah sejak tahun 2018 hingga sekarang. Dalam wawancaranya dengan aknyogya.ac.id, Rabu,15/2, pria yang merupakan alumni Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya ini menceritakan tentang perkembangan Kalurahan Glagah baik sebelum adanya pendampingan hingga sekarang. Bahwasanya yang menjadi objek utama pendampingan desa budaya di Kalurahan Glagah ini adalah regenerasi. Dimana sudah sejak lama Kalurahan Glagah mempunyai grup-grup kesenian di hampir setiap padukuhannya, situs budaya serta kuliner khas olahan dari seafood. Namun dikarenakan tidak adanya regenarasi beberapa grup kesenian yang ada bubar.
“Oleh karena itu, pendampingan desa budaya difokuskan pada membangkitkan kembali potensi-potensi budaya yang pernah ada dengan memperhatikan lima aspek kebudayaan. Diantaranya mengajak para remaja untuk mau mencintai kesenian dan budaya dengan tidak meninggalkan para sesepuh sebagai spiritnya. Membuat grup-grup kesenian yang baru, merawat kembali situs-situs budaya yang ada, mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak, membuat nama-nama jalan dan gang dengan aksara jawa, membuat kreatifitas kerajinan batik kayu serta mempromosikan kuliner khas Kalurahan Glagah”, jelas pria berusia 51 tahun ini singkat.
Tentunya kesemua itu didukung oleh banyak pihak, baik dari Dinas Kebudayaan, Kalurahan, pengurus desa hingga masyarakat. Dimana tujuan utama dari pendampingan desa budaya ini adalah agar tercapai masyarakat yang berbudaya dengan begitu masyarakat akan selalu menjaga, melestarikan, mengembangkan dan memajukan budaya.
Direktur AKN Senbud Yk, Dr. Supadma, M.hum. menyampaikan apresiasinya terhadap alumni AKN Senbud Yk yang mendedikasikan diri dalam pendampingan desa budaya. Hal ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk melestarikan seni budaya khususnya seni budaya Yogyakarta.
“Kami bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para alumni AKN Senbud Yk, yang mau mendedikasikan dirinya sebagai pendamping desa budaya. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan dalam upaya bersama untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Yogyakarta. Semoga bisa membuahkan hasil yang maksimal”, ujar Dr. Supadma, M.Hum. saat diwawancarai oleh aknyogya.ac.id di tempat yang berbeda.
Rochmad AKN