Sewon, Bantul – Aktivitas perkuliahan mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Senin, 19/1 terasa beda. Yang menjadi pembeda yaitu diadakannya kuliah umum pengetahuan wayang yang menghadirkan Dr. Aris Wahyudi soerang akademisi dari kampus ISI Yogyakarta.
Secara garis besar materi dalam kuliah yang disampaikan antara lain, ditetapkannya wayang kulit sebagai warisan budaya oleh organisasi internasional yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO) yang merupakan lembaga dunia di bawah PBB.
Pengetahuan yang terkandung dalam wayang sendiri sebagai cara orang Jawa mengejawantahkan (perwujudan-red) pengetahuan kosmosnya mengenai dari asal usul dan sejarah wayang termasuk pergesekan dengan Mahabharata India. Semula istilah wayang tersebut digunakan untuk menyebut wayang wong, seperti yang dalam prasasti Balitung. Sedangkan ringgit untuk wayang kulit, dari prasasti Wora-Wari, Arjunawiwaha era kekuasaan Airlangga Majapait hingga Demak.
Di era pemerintahan kasultanan Demak inilah penyatuan istilah wayang dan ringgit karena ada kesamaan dalam cerita. Namun sebenarnya berbeda, karena dalam cerita prasasti Balitung bersumber pada Mahabharata India. Sedangkan ringgit yang dari jawa timur bersumber pada cerita Jawa. Namun nama-nama yang digunakan mirip. Karena ada kesamaan nama inilah yang terjadi dan sifat orang Jawa yang menggangap penamaan dari India lebih bagus sehingga nama-nama tokoh wayang Jawa diganti dengan nama India sesuai dengan kapasitasnya sebagai kosmologi.
Dalam sesi tanya jawab interaktif dari mahasiswa ditanyakan tentang saat menonton wayang itu dari belakang dalang atau dari depan dalang? Namun, Sebagian mahasiswa menjawabnya di balik layar.
“Bahwa yang benar itu penonton di belangkang dalang, sehingga melihat langsung fisik wayang lengkap dengan sunggingnya. Karena sunggingan wayang merupakan salah satu simbol. Muncul pandangan bahwa menonton wayang dari balik layar merupkan dasar pemikiran sarjana (antropolog) Belanda. Dari sini para sarjana Eropa dan Amerika mendefinisikan bahwa wayang artinya bayang-bayang. Padahal definisi tersebut kurang tepat karena istilah wayang berasal dari wayang wong, yang tidak ada bayang-bayangnya. Sedangkan yang menggunakan kelir dan blencong adalah ringgit”, jelas Dr. Aris Wahyudi.kepada aknyogya.ac.id
Senada dikatakan oleh Junende Rahmawati, M.Sn. Kordinator Program studi Kriya, pengetahuan dan wawasan yang disampaikan oleh dosen tamu adalah salah satu cara menambah wawasan ketika saat ini budaya membaca saat ini sangat memprihatinkan bagi bangsa ini.
“Kuliah umum ini merupakan salah satu program yang penting, karena kita mempelajari ilmu di luar yang kita pelajari di AKN Senbud Yk dengan adanya kuliah sisipan ini diharapkan memantik mahasiswa maupun pengajar untuk semakin menambah ilmu yang berkaitan dengan konsentrasi ilmu yang di pelajari”, ujar Kaprodi Kriya singkat.
Sangat penting bagi mahasiswa khusunya kriya, karena kreativitasnya ke depan jangan sampai menghilangkan ilmu pengetahuan alam semesta yang sangat detail. Namun untuk itu harus ditunjang dengan kekayaan bacaan.
Rochmad-AKN