Bantul, aknyogya.ac.id – Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta pada Kamis, 7/9 telah mewisuda ke 57 mahasiswanya di Pendopo Bale Widya Budaya komplek kampus AKN Senbud Yk Jl. Parangtritis, Km 4,5 Panggungharjo, Sewon, Bantul.
Dalam prosesi wisudanya para mahasiswa tak mengenakan toga seperti wisuda pada umumnya melainkan semua mahasiswa mengenakan pakaian adat Jawa gagrak Yogyakarta, lengkap dengan sanggul bagi mahasiswi dan untuk mahasiswa putra lengkap dengan keris yang terselip.
Diawali dengan ketua dan anggota senat memasuki lokasi acara dan selanjutnya sidang senat terbuka. Selanjutnya instrumen gamelan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan dilanjutkan gending Jawa dengan menyanyikan mars AKN Seni Budaya Yogyakarta mengiringi jalannya rangkaian wisuda.
Salah satu rangkaian acara yang menarik perhatian adalah pertunjukan tari oleh salah satu wisudawan yang bernama Wahyu Rahmat Dullah. Menampilkan tarian kontemporer yang berjudul tari Greget Jogja ciptaanya sendiri. Pria yang akrap disapa Fai ini luwes dalam membawakannya.
Fai terlihat seperti penari pada umumnya. Tapi siapa sangka Fai adalah mahasiswa difabel tuli, meski volume gamelan mengalun kencang, tetap saja alunannya tak terdengar olehnya. Ditemui seusai pentas, Fai mengatakan bahwa ia mempersiapkan tariannya sejak dua minggu sebelumnya, ia bisa intens empat kali latihan dalam seminggu. Menurutnya, ia dengan lancar dalam latihan karena selama ini selalu di bantu teman-temannya. “Awal pertama pakai alat bantu dengar, semakin kesini kalau musiknya keras saya bisa mendengar getaran suaranya,” ujarnya.
Suara, terlebih ketika diperkeras dengan speaker memang bisa membuat tubuh seakan bergetar. Itulah mengapa saat, ia menari suara gamelan dibuat lebih kencang, melalui getaran itu, ia pun menyesuaikan tempo dan dapat menari dengan rasa. Lebih jauh fai mengungkapkan bahwa, ia menyukai tari dan telah menari sejak usia 5 tahun. Namun sewaktu kecil, ia sempat tidak percaya diri dengan kekurangan yang ada pada dirinya.
“Orang tua sangat mendukung, karena aku ga pintar nari. Tapi ibu mengatakan agar aku jangna takut dan harus mencoba” ucapnya.
Peran orang tua Fai dan orang-orang di sekitarnya mengantarkannya lulus setelah menempuh kuliah D1 di AKN Seni dan Budaya Yogakarta.
Semetara itu, Kasubag-TU AKN Seni dan Budaya Yogyakarta Rais Faisal Akhyar memandang, apa yang telah dilakukan Fai ini menandakan bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.
“Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, dan semua orang bisa ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya meski dalam keterbatasan,” ungkapnya.
Ini pengalama pertama bagi AKN Seni dan Budaya Yogyakarta menerima mahasiswa difabel. AKN disebutnya terus menyempurnakan diri turut berproses agar bisa memberikan pembelajaran yang baik bagi mahasiswa difabel.
“Meski awalnya kami tergopoh-gopoh memberikan haknya sesuai dengan kebutuhannya sebagai mahasiswa, Alhamdulillah setelah proses pembelajaran, kita bisa mengajar dan dia bisa mengikuti,” ungkapnya.
Lebih lanjut diungkapkan di tahun ini pihaknya telah mewisuda 57 mahasiswa dari Prodi Kriya, Tari dan Karawitan. Ia berharap setalah lulus mereka bisa berkarya di tengah-tengah masyarakat dan melestarikan seni budaya Yogyakarta.
“Dan kami harapkan meraka menjadi agen perekat sosial di masyarakat dan kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta pada umumnya,” ungkapnya.
Karena berlatar pendidikan vokasi D1 hanya ditempuh selama satu tahun, namun para mahasiswanya tetap mendapatkan ilmu secara maksimal. Terlebih banyak praktiknya atau agenda pementasan yang diikuti oleh para mahasiswanya yang smakin mengasah kemampuan mereka dalam berkesenian, misalkan pentas di Musium Sonobudoyo dan agenda-agenda lainnya.
Rochmad AKN