Yogyakarta,aknyogya.ac.id – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menyelenggarakan workshop Tatah Sungging Wayang Kulit Jogja International Heritage Festival (JIHF) di Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta, Jl Sriwedani, Ngupasan, Kota Yogyakarta, Senin, 6/11.
Dalam kegiatan workshop yang diikuti oleh masyrakat umum tersebut menghadirkan narasumber Surono dan Sagio, keduanya adalah dosen Prodi Kriya Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Sagio juga dikenal sebagai pemilik Sanggar Tatah Wayang Kulit Sagio Puphet Handicraft Nggendeng, Bangunjiwo.
Dalam kesempatannya sagio sebagai narasumber mengatakan bahwa saat ini perajin wayang kulit sudah mulai langka. Beliau mengajak generasi muda untuk kembali mencintai warisan budaya leluhur tersebut agar jangan sampai punah. Karena budaya merupakan ruh dari asal muasal bangsa ini. “Sekarang ini cukup sedikit generasi muda yang senang dengan wayang, apalagi menggelutinya sebagai perajin, sangat sedikit sekali,” ujarnya.
Abimanyu Putra Pratama salah satu anak muda yang dalam kegiatan workshop ini sebagai instruktur tatah sunging mengatakan bahwa, memang saat ini untuk mencari perajin wayang kulit sudah sangat sulit dan langka. “Ya ada satu dua masih bisa ditemui, namun sangat jarang sekali,” kata Abi (sapaan akrabnya) disela-sela kegiatannya mengisi workshop.
Sama halnya yang dikatakan oleh staf seksi warisan budaya tak benda, Dinas Kebudayaan (kundha kabudayaan) DIY bahwasanya kegiatan workshop ini merupakan event tahunan Dinas Kebudayaaan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka memperingati hari wayang nasional 2023. “Workshop kali ini mengambil tema Jogja International Heritage Festival (JIHF) dan kebetulan mas Abimanyu dan pak Sagio terlibat di salah satu kegiatan workshop tatah sungging,” terang Dwi Fitri Setiya Budi.
Rochmad AKN