Bantul,aknyogya.ac.id – Sarasehan Budaya dengan tema Sejarah Makam Dalam Wayang Kulit Ki Panjang Mas adalah salah satu rangkaian kegiatan Praktek Kerja Mahasiswa Program Studi Kriya Kulit Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta sebagai Laporan Karya Akhir Studi. Sabtu2/3 di Pendopo Gunung Kelir, Kerto Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Seluruh kegiatan PKL ini berkolaborasi dengan Pemerintah Kalurahan Pleret, Bantul. Pemerhati cagar budaya situs Makam Ratu Malang juga sebagai narasumber pada acara sarasehan budaya mengatakan bahwa, kegiatan kolaborasi antara AKN Seni dan Budaya Yogyakarta dan Pemerintah Desa Pleret merupakan hal yang positif, “Bagi desa akan terangkat potensi sejarah, dengan melibatkan anak-anak dan pemuda juga akan menumbuhkan rasa memiliki perhatian terhadap sejarah tentang cagar budaya Makam Ratu Malang dan program-program dari kampus AKN Senbud Yk terlaksana secara baik,” terang Danang Indra Prayoga, kepada media aknyogya.ac.id.
Bukit Gunung Sentono atau Gunung Geber Wayang adalah salah satu destinasi wisata religi yang erat kaitannya dengan pemakaman Ratu Malang, seorang sinden yang juga istri dari seorang dalang kondang Ki Panjang Mas yang sebelumnya diperistri oleh Sultan Amangkurat I. Tidak jauh dari lokasi pemakaman terdapat batu andesit yang ditengarai batu tersebut adalah kotak yang berisikan wayang milik sang dalang atau yang juga di kenal sebagai Kiai Dalem.
Koordinator Program Studi Kriya Kulit Ima Novilasari, S.Sn., M.Sn., yang juga ketua kegiatan Laporan Karya Akhir Studi mahasiswa AKN Senbud Yk Angkatan X dalam keterangannya menyampaikan bahwa pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) kali ini Prodi Kriya selain mengadakan workshop, lomba mewarnai gambar wayang juga diadakan sarasehan budaya dengan mengangkat tema makam Ki Dalang Panjang Mas, yang terletak di Bukit Gunung Sentono. “Kita sebagai kampus seni dan budaya khusus budaya Yogyakarta, Prodi Kriya Kulit berkewajiban mengenalkan, melestarikan dan tentunya memajukan budaya Yogyakarta, khususnya seni wayang kulit gaya Yogyakarta, dengan bekerjasama dengan stakeholder setempat dan melibatkan masyarakat sekitar dan anak anak muda setempat,”jelasnya, saat di Pendopo Gunung Kelir lokasi pameran Kriya Wayang Kulit.
Rochmad AKN