Bangunjiwo, aknyogya.ac.id – Kesekian kalinya Sanggar Tatah Sungging Griya Ukir Kulit milik salah satu instruktur Prodi Seni Kriya Kulit Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Rombongan wisatawan kali ini berasal dari Australia. Rabu, 27/3, di Jl. Gendeng, Kalirandu, Bangunjiwo, Bantul.
Ketujubelas wisatawan yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pengusaha muda tersebut, tiba di lokasi workshop pukul 13.00 WIB yang didamping tourleader lokal. Sebelum kegiatan kelas dimulai, rombongan turis diajak terlebih dahulu untuk mengelilingi ruang pamer, melihat-lihat wayang kulit hasil karya para perajin dari griya ukir. Para wisatawan dibagi dua kelas dalam praktek membuat wayang kulit. Hal pertama yang diajarkan antara lain mengenalkan jenis kulit sebagai bahan wayang, menatah kulit serta teknik pewarnaan.
Pemilik sanggar sekaligus pengajar pada Prodi Kriya kulit saat dimintai keterangan mengatakan bahwasannya wisatawan dari luar negeri yang berkunjung ke sanggar miliknya itu sudah sering, bahkan rombongan ini sudah kesekian kalinya, “Dalam setiap kunjungan untuk turis asing ataupun wisatawan lokal ada perbedaannya, untuk wisatawan asing ditarik kontribusi sebagai ganti pembelian bahan baku, namun bagi wisatawan lokal gratis kontibusinya walaupun hasil karyanya sama-sama bisa dibawa pulang,” terang Sagio.
“Para wisatawan yang datang ini diajari cara memilih bahan baku, natah kulit hingga mewarnai dan dari hasil karyanya bisa di bawa pulang ke negara asal,” imbuhnya, kepada tim media aknyogya.ac.id.
Sebagai pengajar pada perguruan tinggi vokasi seni dan budaya Yogyakarta dan pengelola sanggar tatah ukir wayang kulit, ia merasa sangat senang dengan adanya kunjungan-kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Yang mana mereka antusias dengan budaya yang kita miliki. Tentunya itu menjadikan kebanggaan bagi kita sebagai pewaris seni budaya. “Maka kita sebagai generasi di mana saat ini budaya asing membanjiri melalui media sosial, kita harus semaksimal mungkin mencegah dangan cara menumbukan rasa memiliki dan melestarikan seni dan budaya sendiri,” pungkasnya.
Rochmad AKN