YOGYAKARTA - Saat ini Pengabdian Masyarakat dari UNY memberikan peluang untuk pendampingan termasuk adanya pendampingan Pengabdian Masyarakat penugasan Guru Besar. Direktur AKNSBY Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum. saat ini sedang melaksanakan kegiatan program Profesor Masuk Desa secara mandiri dan tidak dibiayai dari manapun. Kuswarsantyo menjalankan program tersebut sesuai perannya dengan mengangkat tema "Menggali Seni Tradisi Tiada Henti 2026" yang mensinergikan dua kampus yaitu AKN Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY) dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Pengabdian Masyarakat program Profesor Masuk Desa, pada 2026 ini telah memasuki tahun kedua. Program ini merupakan bagian dari kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai Profesor yang mendapatkan tunjangan kehormatan. "Saya diberikan itu sehingga saya manfaatkan untuk kegiatan ini. Rencananya dalam setahun ini ada 12 kali kegiatan. Nah berarti kan paling tidak sebulan sekali saya harus mendatangi kantong-kantong budaya. Ini sudah saya identifikasi nanti yang di luar DIY ada tiga," terang Kuswarsantyo.
Kantong budaya luar DIY yang akan didatangi, pertama yaitu Desa Wonotoro Bromo, Probolinggo. Di sana Kuswarsantyo diminta membuat Jatilan Majapahit. "19 Juli 2026 saya kegiatan di sana dan membawa teman-teman AKNSBY khususnya yang Karawitan. Untuk penarinya dari Wonotoro dan di sana kami kolaborasi," terangnya. Yang kedua di Desa Ngijo, Malang yang di daerah itu terdapat sebuah sanggar dengan komitmen melestarikan tari gaya Yogya. Nah mengapa saya ke Malang? Karena di sana ada komunitas sanggar yang nguri-nguri tari gaya Yogya tersebut. Di sana nanti saya akan beritahukan tentang makna filosofi Joget Mataram," kata Direktur. Dan yang ketiga di Klaten Jawa Tengah. DI Klaten ini bentuk kegiatannya Kuswarsantyo diminta untuk menilai uji kompetensi para penari anak-anak di sebuah sanggar. "Sanggar yang akan saya datangi ini luar biasa jumlah peminatnya karena mencapai ratusan. Pak Tejo Sulistyo, seorang tokoh kebudayaan minta saya untuk menjadi bagian dari tim review atau penilai uji kompetensi siswa di sanggar tersebut," sebutnya.
Sedangkan untuk yang di wilayah DIY, sudah diawali pada Januari ini yaitu di Margoagung, Seyegan, Sleman. Selain itu ada pula kegiatan di Panjatan, Kulonprogo atas permintaan dari pengurus rintisan desa budaya di sana. Selanjutnya sebelum puasa juga kegiatan di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul terus setelah Lebaran berlanjut di wilayah Sleman yang lain serta kegiatan di perbatasan Piyungan dan Gunungkidul. Awalnya, saya membuka peluang untuk rintisan-rintisan Kalurahan Budaya itu. Yaitu jika berminat untuk mengundang, saya datang tidak diberi apa-apa karena saya sudah diberi sangu dari program itu. Pada program itu saya juga membawa AKNSBY sebagai community college yang artinya saya memang mempromosikan AKNSBY ke luar tetapi saya mendapatkan supporting dari institusi saya di UNY," pungkas Kuswarsantyo. (Humas-AKNSenBud)