Yogyakarta, aknyogya.ac.id – Yogyakarta menjadi barometer perkembangan, pelestarian serta pengembangan bahasa, sastra dan aksara Jawa di Indonesia. Perkembangan bahasa, sastra dan aksara begitu dinamis dan telah cukup diperhitungkan di Indonesia sehingga banyak sastrawan dan ahli bahasa telah berkiprah menghasilkan karya sastra baru dengan menggunakan media bahasa Jawa. Begitu juga keikutsertaan sastrawan-sastrawan muda dalam pembinaan, pengembangan bahasa dan sastra Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah suatu tindakan yang strategis.
Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta melalui Kaprodi Seni Karawitan yaitu Bayu Purnama, M.Sn., diminta menjadi menjadi juri pada Kompetisi Bahasa dan Sastra Jawa 2023 tingkat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bertempat di Pendhopo Kantor Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Rabu 23/8. Kompetisi Bahasa dan Sastra tahun 2023 ini merupakan hasil seleksi atau pemenang Kompetisi Bahasa dan Sastra tingkat kabupaten dan kota se- DIY.
Kompetisi Bahasa dan Sastra Jawa ini merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencari peserta terbaik pada jenjang dan jenis kemampuan bahasa dan sastra yang dikuasai. Dimana peserta pada kompetisi ini dibagi dalam beberapa kategori usia, yaitu kategori anak usia 6 – 13 tahun, remaja 13 – 19, dewasa 19 – 45. Adapun jenis lombanya adalah Maca Cerita Cekak, Maca Geguritan, Macapat, Sesorah, Pranatacara, Mendongeng dan Alih Aksara Jawa. Peserta kompetisi ini adalah utusan dari masing-masing kabupaten/kota yang mana setiap kategori lomba terdiri dari 3 orang utusan untuk setiap jenjang usia.
Sebagai juri dalam kategori lomba macapat untuk usia anak, Bayu purnama, M.Sn. dosen Seni Karawitan kampus AKN Seni dan Budaya Yogyakarta menyampaikan bahwa dalam lomba macapat tersebut salah satu kriteri penilaiannya meliputi Wirasa, Wicara, Wirama dan Wiraga. “Di era digitalisasi saat ini penyelenggaraan lomba macapat melalui kompetisi bahasa dan sastra tahun 2023 seperti ini banyak memberikan pengalaman dan wahana ilmu khususnya bagi peserta lomba macapat anak-anak. Dan juga mengenalkan kebudayaan Jawa sejak dini agar lebih dekat tentang budayanya sendiri,” jelas Bayu Purnama.
“Kurikulum Bahasa Jawa yang merupakan muatan lokal dari mulai tingkat SD hingga sekolah menengah memang sudah diimplementasikan. Tetapi bagaimana praktik sehari-harinya inilah yang kemudian dapat dilihat bersama bagaimana pelestarian bahasa dan budaya membentuk etika dan sopan santun. Kejuaraan dalam kompetisi ini bukanlah tujuan utama, akan tetapi point pentingnya adalah proses dalam pelestarian bahasa dan sastra dapat diimplementasikan sehari-hari,” tambah Bayu Purnama.
Rochmad AKN