Bantul, aknyogya.ac.id – Pesta Wayang pada perayaan Hari Wayang Dunia HWD 2023 di kampus Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Sabtu,18/11 ditutup dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon Dewa Ruci yang menghadirkan dalang muda yakni Ki Bayu Aji Nugroho, M.Sn., di pendopo Bale Widya Budaya, Jl. Parangtritis, km 4,5. Sewon, Bantul.
Direktur AKN Seni dan Budaya Yogyakarta Dr. Supadma, M.Hum. sesaat setelah selesai pidato penutupan langsung menyerahkan wayang Brotoseno kepada dalang Ki Bayu Aji Nugroho, M.Sn. Konon tokoh Brotoseno dalam dunia pewayangan merupakan keluarga pendawa yang memiliki watak jujur, tabah, patuh, setia, berani dan kuat.
Lakon Dewa Ruci diawali dengan kisah Bima. Untuk menyempurnakan ilmu yang belum ia kuasai, Bima menemui Resi Durna. Setelah bertemu gurunya, Bima menceritakan maksud dan tujuannya. Lalu Resi Durna memerintahkan muridnya untuk menemui Banyu Tirtapawitrasari di Gunung Candradimuka. Kabar keberangkatan Bima membuat sang ibu Dewi Kunthi merasa berat untuk melepas kepergiannya. Namun, mereka tidak bisa melarang keinginan sang anak.
Sesampai di Gunung Candradimuka, Bima sempat berkelahi dengan dua raksasa Rukmuka dan Rukmakala dan Bima memenangkan pertarungan itu. Tak disangka dua raksasa tersebut adalah jelmaan dari Bethara Indra dan Bethara Bayu. Bethara Indra dan Bethara Bayu menjelaskan bahwasanya di gunung ini tidak ada yang namanya Tirtapawitrasari, lalu Bima disuruh kembali bertemu sang guru untuk memberitahu siapa sebenarnya tirta yang dimaksud.
Sesampainya bertemu Resi Durna, ia menjelaskan bahwasanya perjalanannya ke Candradimuka merupakan rangkain tes. Selanjutnya Resi Durna menjelaskan bila Tirtaprawitra adanya di tengah laut. Sesampai di bibir laut, Bima merenung, bisakah dirinya berenang di tengah laut yang begitu luas? Dengat tekad yang kuat Bima berenang, di tengah lautan Bima bertemu ular besar. Dan bertarunglah Bima dengan sang ular tersebut, dan ular tersebut mati di tangan Bima, dan ular tersebut berubah wujud menjadi Dewa Ruci.
Demikian sekelumit cerita wayang yang di mainkan oleh dalang muda Ki Bayu Aji Nugroho yang merupakan cucu dalang kondang Ki Basirun Hadisumarta. Ia sejak tahun 2008 sudah tergabung dengan sanggar seni Bajra Gupita Yogyakarta, “Belajar dalang selain dari sang kakek ada hal lain yang membuat saya tertarik yaitu wayang kulit itu mempunyai beragam ceritera,” ujar Bayu, singkat.
“Wayang tidak akan mati, karena usianya hingga sekarang sudah 3000 tahun lebih, sejak zaman nenek moyang, animisme, dinamisme. Wayang bergerak mengikuti perkembangan zaman hingga sekarang, “pungkasnya.
Rochmad-AKN